Namblong Bangkit: Masyarakat Adat Membangun Masa Depan Ekowisata Berkelanjutan

Pada 13 September 2025, tim SAGU Foundation berkesempatan mengunjungi kawasan ekowisata Nggam Bu di Namblong, Genyem, sebuah destinasi yang dikelola langsung oleh masyarakat adat. Kunjungan tersebut bukan sekadar perjalanan rekreasi, tetapi juga pengalaman belajar yang membuka mata tentang bagaimana ekonomi lokal, konservasi alam, dan pelestarian hak adat dapat berjalan beriringan dalam satu ruang wisata. Setelah kembali, kami membawa pulang berbagai catatan dan refleksi dari pengalaman di tempat wisata, lalu mendiskusikannya secara mendalam bersama tim. Artikel ini adalah rangkuman dari pembelajaran tersebut—ditulis untuk memberi gambaran yang lebih utuh tentang praktik ekowisata berbasis masyarakat adat di Papua, serta potensi besar yang dimilikinya untuk masa depan.
Ekonomi: Menggerakkan Kesejahteraan Melalui Ekowisata Adat di Namblong
Pengembangan ekowisata yang dikelola oleh masyarakat adat di Namblong telah memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi komunitas lokal. Selain pendapatan langsung dari aktivitas wisata, masyarakat juga memperoleh manfaat tidak langsung berupa peningkatan keterampilan, pembangunan infrastruktur sederhana, dan tumbuhnya kepercayaan antar anggota komunitas. Semua ini berkontribusi pada penguatan mata pencaharian jangka panjang.
Untuk meningkatkan daya tarik wisata dan memberikan nilai tambah, masyarakat dapat menampilkan informasi tiga bahasa—bahasa lokal, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris—pada setiap benda atau titik penting di area wisata. Pendekatan ini tidak hanya membantu pengunjung memahami budaya setempat, tetapi juga memperkaya pengalaman belajar mereka. Upaya serupa juga dapat diterapkan pada stan makanan, dengan menjelaskan nama makanan dalam bahasa lokal serta cerita mengenai pentingnya hidangan tersebut bagi masyarakat adat.
Dari sisi layanan, penyediaan banner peta atau flyer perjalanan akan membantu wisatawan menavigasi area wisata dengan lebih mudah. Informasi mengenai pilihan paket wisata juga memberi fleksibilitas bagi pengunjung sekaligus membantu penyelenggara mengelola kunjungan secara lebih teratur.

Distribusi Manfaat yang Adil
Model usaha ekowisata Namblong mencerminkan prinsip keadilan dalam distribusi manfaat. Pemuda lokal mendapatkan penghasilan melalui jasa pemandu dan pengelolaan rakit; ibu-ibu kampung memperoleh pendapatan dari penyajian makanan tradisional; pemilik lahan menyediakan area parkir; dan pemimpin adat mengelola usaha bersama sebagai representasi kolektif komunitas. Kolaborasi ini memastikan bahwa keuntungan ekonomi tidak terpusat pada satu pihak, tetapi mengalir secara merata ke seluruh lapisan masyarakat.
Keberlanjutan Pendapatan
Untuk jangka pendek, aktivitas wisata relatif stabil karena adanya kunjungan dari wisatawan lokal terutama pada hari libur. Dalam jangka panjang, masyarakat tetap bersedia memberikan layanan di hari biasa, sehingga wisatawan mancanegara maupun peneliti dapat berkunjung kapan saja. Strategi pemasaran melalui media sosial—baik oleh pengelola maupun konten yang dibagikan pengunjung—juga berperan penting dalam menjaga visibilitas destinasi. Selain itu, kawasan ini berpotensi berkembang sebagai lokasi penelitian bagi mahasiswa dan institusi akademik, membuka sumber pendapatan baru sekaligus memperkuat reputasi Namblong sebagai kawasan konservasi adat.
Peran Pemuda dan Perempuan
Ekowisata di Namblong membuka peluang ekonomi dan pembelajaran lintas generasi. Anak-anak sering ikut mendampingi orang tua saat melayani wisatawan, memungkinkan mereka mengamati dan mempelajari proses pengelolaan sejak dini. Pemuda terlibat langsung dalam kegiatan inti seperti pemanduan wisata dan pengoperasian rakit, sementara perempuan berkontribusi melalui pengolahan dan penyajian makanan tradisional. Keterlibatan lintas usia dan gender ini menciptakan ekosistem ekonomi yang inklusif.
Proyeksi Masa Depan
Untuk menghadapi peningkatan jumlah pengunjung, penguatan kapasitas menjadi kebutuhan mendesak. Pelatihan terkait penguasaan bahasa lokal, penggunaan alat keselamatan seperti life jacket, pemasaran digital, branding, manajemen operasional, dan manajemen keuangan akan memperkuat profesionalisme layanan. Pembatasan jumlah pengunjung sesuai kapasitas sumber daya manusia, ketersediaan fasilitas, dan kemampuan pengelolaan sampah juga perlu diterapkan agar keberlanjutan tetap terjaga. Selain itu, kerja sama dengan pemerintah dan pelaku usaha lokal akan membuka jalan bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih terstruktur dan berdampak jangka panjang.
Konservasi Alam: Harmoni antara Ekowisata dan Penjagaan Lingkungan di Nggam Bu
Konservasi alam menjadi landasan utama dalam pengelolaan kawasan ekowisata Nggam Bu di Namblong. Sebagai ruang hidup bagi flora, fauna, dan masyarakat adat, lokasi ini dikelola dengan pendekatan yang menempatkan alam sebagai subjek yang harus dihormati, bukan sekadar objek wisata. Karena itu, setiap aktivitas wisata dirancang agar sejalan dengan prinsip menjaga kebersihan, melindungi habitat, dan memastikan keberlanjutan ekosistem jangka panjang.


Praktik Lingkungan di Area Wisata
Pengelola lokal menerapkan praktik kebersihan dasar seperti menyediakan kantong plastik khusus sampah dan melakukan pembersihan rutin di sekitar area wisata. Meski sistem daur ulang belum tersedia, kesadaran komunitas terhadap pentingnya menjaga kebersihan sudah terlihat melalui inisiatif-inisiatif ini. Selain itu, arung jeram di Nggam Bu tidak hanya berfungsi sebagai wahana wisata tetapi juga memainkan peran ekologis. Jalur arung jeram menghubungkan dua sungai kecil yang terpisah, sehingga membantu pengaturan aliran air dan berkontribusi pada water management alami di kawasan tersebut.
Perlindungan Habitat dan Satwa Liar
Masyarakat adat Namblong memiliki cara tersendiri dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Mereka hanya mengambil ikan sesuai kebutuhan dan menghindari praktik penangkapan berlebihan. Aktivitas budaya lokal—seperti ritual penyambutan dan pembersihan diri dengan air sungai sebelum memasuki kawasan sungai—menjadi simbol penghormatan mereka terhadap alam, sekaligus pengingat bahwa manusia adalah bagian dari ekosistem, bukan penguasa atasnya.
Upaya menjaga kualitas habitat juga dilakukan melalui pengelolaan limbah tradisional. Masyarakat tidak membuang sisa tokok sagu ke sungai dan secara aktif memastikan tidak ada ikan asing yang masuk dan membahayakan populasi ikan lokal. Mereka juga memantau pertumbuhan alga di sepanjang sungai. Pertumbuhan alga yang seimbang diperlukan agar air tetap bersih, namun tetap menyediakan makanan dan tempat berlindung bagi ikan dan hewan perairan lainnya.
Daya Dukung dan Pengendalian Pengunjung
Untuk menjaga kenyamanan dan kelestarian lingkungan, pengelola menerapkan pembatasan jumlah pengunjung per hari. Kebijakan ini memastikan area sungai tidak terlalu ramai, kebersihan lebih mudah dikendalikan, dan aktivitas masyarakat sekitar tidak terganggu. Petugas lokal selalu siaga untuk menjaga keamanan dan kenyamanan wisatawan selama berada di sepanjang aliran Nggam Bu.
Dari sisi fasilitas, area parkir di titik awal arung jeram dapat menampung sekitar enam mobil, sementara titik akhir dapat menampung hingga sepuluh mobil. Terdapat pula tujuh hingga sepuluh rakit, masing-masing berkapasitas tiga orang dewasa, yang disiapkan untuk memastikan alur kunjungan tetap tertib dan tidak melebihi daya dukung sungai.
Infrastruktur Ramah Lingkungan
Ekowisata Nggam Bu mengedepankan penggunaan bahan-bahan alami dalam pembangunan fasilitas. Rakit yang digunakan dibuat secara manual menggunakan material dari alam sekitar, tanpa bahan pabrik atau bahan bakar fosil. Penggunaan rakit secara khusus menjadi bentuk transportasi yang ramah lingkungan di kawasan perairan, sekaligus mengurangi risiko pencemaran bahan bakar dan menjaga kesehatan ekosistem sungai. Pilihan ini menunjukkan komitmen masyarakat terhadap praktik ekowisata yang rendah jejak karbon.
Proyeksi Masa Depan Konservasi
Untuk memperkuat identitas dan pengetahuan pengunjung, masyarakat berencana menambah papan selamat datang menggunakan bahasa lokal serta menyediakan informasi sejarah singkat tentang Sungai Nggam Bu. Kosakata bahasa lokal terkait tumbuhan dan hewan juga dapat disediakan sebagai sarana edukasi bagi wisatawan.
Selain itu, peningkatan kapasitas bagi pemuda menjadi fokus penting. Pelatihan pengelolaan tempat wisata, kelas adat, serta pengajaran bahasa dan cerita lokal akan memastikan generasi muda tidak hanya mahir dalam operasional wisata, tetapi juga memahami nilai ekologis dan budaya yang mereka wakili. Dengan demikian, mereka dapat menjadi pemandu yang kompeten sekaligus penjaga pengetahuan adat tentang Nggam Bu.
Hak Adat dan Perlindungan Budaya: Menjaga Identitas Namblong dalam Ekowisata Nggam Bu
Ekowisata Nggam Bu bukan hanya ruang rekreasi, tetapi juga ruang afirmasi identitas masyarakat adat Namblong. Pengelolaan kawasan ini mengutamakan hak adat, pelestarian budaya, dan keberlanjutan pengetahuan lokal, sehingga setiap aktivitas wisata tidak sekadar memberikan pengalaman, tetapi juga menyampaikan nilai-nilai kearifan yang diwariskan turun-temurun.
Penghormatan terhadap Budaya Lokal
Setiap pengunjung yang masuk ke kawasan Nggam Bu diarahkan untuk membasuh muka, tangan, dan kaki dengan air sungai sebelum naik ke rakit. Ritual sederhana ini merupakan bentuk cultural cleansing—sebuah simbol membersihkan diri sebelum memasuki ruang yang dianggap sakral oleh masyarakat Namblong. Selain itu, wisatawan juga disuguhi makanan tradisional khas Namblong sebagai bagian dari pengalaman budaya yang autentik.
Keterlibatan Masyarakat Adat dalam Pengambilan Keputusan
Pengelolaan ekowisata sepenuhnya diinisiasi dan dijalankan oleh masyarakat adat melalui BUMMA (Badan Usaha Milik Masyarakat Adat) Namblong. Kehadiran BUMMA memastikan seluruh proses manajemen, operasional, hingga pengelolaan sumber daya alam berada di tangan komunitas lokal, bukan pihak luar. Melalui pendekatan ini, masyarakat adat mempertahankan kontrol atas tanah, air, dan seluruh elemen ekologis yang menjadi bagian dari identitas mereka.
Dari sisi ekonomi, pembagian manfaat dilakukan secara adil dan transparan: seluruh pendapatan wisata disalurkan 100% ke PT Yombe Namblong, perusahaan yang dimiliki sepenuhnya oleh masyarakat adat. Model ini memberikan landasan yang kuat bagi kemandirian ekonomi dan keberlanjutan komunitas.
Pelestarian dan Transfer Pengetahuan Budaya
Selama perjalanan arung jeram, wisatawan mendapatkan cerita rakyat tentang asal-usul Nggam Bu, pengenalan komunitas sekitar, dan kosakata dalam bahasa Namblong. Beberapa kosakata yang kami sempat pelajari saat berwisata antara lain:
- Bu = Air
- Imo = Bambu
- Amo = Sagu
- Yu = Sayur lilin
- Me = Ibu/Mama
- Gue = Perahu
- Skietnang = Terima kasih
Narasi-narasi ini bukan sekadar informasi, tetapi sarana menjaga keberlanjutan budaya dan memperkenalkan identitas masyarakat Namblong kepada dunia luar.
Makanan yang disajikan juga mengutamakan pangan lokal—seperti sayur lilin, sagu, ikan, dan ubi/keladi—yang menjadi bagian penting dari tradisi kuliner dan sistem pangan masyarakat adat. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat kebanggaan budaya, tetapi juga mendorong keberlanjutan sumber pangan lokal.
Proyeksi Masa Depan: Kemandirian Adat dan Regenerasi
Ke depan, PT Yombe Namblong menargetkan agar seluruh aspek operasional dikerjakan oleh masyarakat adat, dengan pendampingan dari Yayasan Mitra BUMMA. Salah satu fokus penting adalah regenerasi pemandu rakit. Para pemandu junior harus mendapatkan pembekalan langsung dari senior mengenai sejarah Kali Nggam Bu, adat istiadat, serta kosakata dasar dalam bahasa Namblong—terutama yang berkaitan dengan alam. Selain itu, kemampuan berinteraksi dengan wisatawan, termasuk dalam bahasa Inggris dasar, menjadi keterampilan yang perlu dipersiapkan untuk menyambut turis mancanegara.
Penguatan kapasitas generasi muda juga mencakup pelatihan manajemen usaha dan operasional ekowisata. Tujuannya adalah memastikan bisnis ini dapat berjalan dalam jangka panjang dengan tetap mengintegrasikan nilai-nilai budaya, pemberdayaan masyarakat, dan semangat kewirausahaan.
Dari seluruh pengalaman wisata tim SAGU Foundation kali ini—mulai dari penguatan ekonomi lokal, praktik konservasi alam yang sensitif terhadap ekosistem, hingga peran sentral masyarakat adat dalam pengelolaan dan pelestarian budaya—Nggam Bu menunjukkan bahwa kemajuan di Papua dapat terwujud melalui pendekatan yang kontekstual, berakar pada pengetahuan lokal, dan dijalankan oleh komunitas itu sendiri. Sebagai wisatawan, kita memiliki peran untuk turut menjaga harmoni tersebut: menghormati adat, menjaga kebersihan lingkungan, dan mendukung usaha lokal yang dikelola masyarakat adat. Dengan memilih berwisata secara bertanggung jawab dan mendukung bisnis berbasis komunitas, kita ikut berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan yang relevan dan bermakna bagi Papua. Semoga semakin banyak inisiatif seperti Nggam Bu yang tumbuh, menjadi bukti bahwa pelestarian alam dan budaya dapat berjalan seiring sebagai jalan menuju masa depan Papua yang mandiri dan berkelanjutan.
| Disclaimer:Artikel ini menggunakan bantuan AI dalam penyusunan bahasa dan penyuntingan tata bahasa. Namun, seluruh ide, konten, pengalaman, serta analisis yang disampaikan berasal sepenuhnya dari pengetahuan, pengamatan, dan diskusi tim SAGU Foundation yang melakukan kunjungan langsung ke lokasi wisata. |
Author :
Tag:Blog, Ekowisata, Masyakart Adat, SAGU Outing
